Menjemput bola : menciptakan rantai pasok jagung yang inklusif

PT Santosa Utama Lestari (Vasham) adalah sebuah bisnis sosial pertanian terpadu yang merupakan anak perusahaan dari PT Japfa Comfeed Tbk. (Japfa). Visi Vasham sejak dimulai pada tahun 2013 ialah ‘menciptakan bisnis pertanian yang terintegrasi secara vertikal dan bersifat inklusif serta memberikan nilai tambah bagi semua pihak yang terlibat’. Melalui program kemitraan yang lebih dekat, perusahaan dapat memastikan penghormatan hak petani pemasok atas standar hidup yang layak.

 

“Perusahaan haruslah memiliki misi yang lebih besar dari perusahaan itu sendiri.” – Irvan Kolonas, CEO Vasham

 

Program Konco Vasham: memahami rantai pasokan untuk menjadi ‘kawan’ petani

Menurut Irvan, Vasham adalah bisnis sosial. Artinya, Vasham ialah sebuah usaha yang bertujuan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan sosial. Bisnis sosial seperti Vasham memiliki model keuangan berkelanjutan yang menguntungkan dan berdampak positif bagi masyarakat.

Salah satu program Vasham ialah menyediakan pertanian sistem kontrak (contract farming) yang bernama Program ‘Konco’, yang berarti Program ‘Kawan’ dalam Bahasa Jawa. Vasham bermitra dengan petani, pedagang, dan komunitas lokal melalui pembiayaan, penjualan, pelatihan pertanian, dan manajemen risiko untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Di tahun 2018 saja, 100,000 ton jagung telah di produksi melalui program Vasham.

Untuk merancang solusi rantai pasokan jagung, Irvan dan timnya harus turun ke lapangan untuk mengikutsertakan petani, tengkulak, retailer, pemerintah, dan pihak lain di rantai pasokan.

Menurut Irvan, permasalahan mata rantai tidaklah selalu hitam putih. “Dulu awalnya saya kira semua tengkulak itu jahat. Setelah ke lapangan, ternyata tidak semua tengkulak itu menindas petani. Ada tengkulak tingkat 1 yang memberikan pelayanan dan pendampingan kepada petani.” jelas Irvan. “Tetapi, ada juga tengkulak tingkat 2 dan 3 yang bertindak murni sebagai broker tanpa nilai tambah bagi petani.” tambah Irvan.

Kemitraan pembiayaan Vasham bertujuan untuk memutus praktik tengkulak yang tidak memberi nilai tambah bagi petani. Petani seringkali harus berhutang kepada tengkulak dengan bunga yang tinggi. Melalui program Konco Vasham, petani dapat berhutang modal dengan bunga yang lebih rendah.

 

“Keuntungan bagi perusahaan untuk bermitra dengan petani adalah kepastian pasokan.”

 

Menurut Irvan, model contract farming sudah ada sejak lama. Contohnya, Japfa memiliki program kemitraan dengan peternak ayam yang di mulai sejak periode krisis ekonomi tahun 1998.

Apa keuntungan menjadi mitra petani pemasok bagi perusahaan? “Keuntungan bagi perusahaan adalah kepastian pasokan dan penjualan.” ucap Irvan.

 

Menanamkan jiwa sosial ke DNA perusahaan

Seiring waktu, Vasham pun terintegrasi menjadi anak perusahaan Japfa. “Awalnya saya memulai Vasham sebagai sosial bisnis sebagai hal yang terpisah dari Japfa.” ucap Irvan. “Akan tetapi, seiring saya mengembangkan Vasham, saya semakin melihat titik temu bahwa untuk menjadi perusahaan bertanggung jawab, perusahaan harus menjadi sebuah bisnis sosial.”

 

“saya semakin melihat titik temu bahwa untuk menjadi perusahaan bertanggung jawab, perusahaan harus menjadi sebuah bisnis sosial.” Irvan Kolonas, CEO Vasham

 

“Melalui Vasham, Japfa pun kini ‘menjemput bola’ ke sentra tani di berbagai daerah seperti Palu, Gorontalo, dan NTB.” Irvan menjelaskan.

Vasham menyediakan fasilitas dan menyediakan akses pasar di berbagai daerah tersebut. “Contohnya, pengiriman hasil petani dari NTB terhambat karena petani kecil sebelum Vasham hadir tidak bisa menggunakan kapal besar”

Menurut Irvan, model bisnis kemitraan sosial dengan petani pemasok bersifat sederhana dan bisa ditiru banyak perusahaan besar lainnya. “Kalau perusahaan itu mau, sebenarnya bisa. Pertanyaannya apakah perusahaan mau berinvestasi dan mengerahkan tenaga untuk berhasil dalam jangka panjang.”

 

https://www.youtube.com/watch?v=f_7-aW42A48&feature=youtu.be

Source: Vasham

Memotivasi pabrik pemasok perusahaan retail pakaian untuk menjalankan bisnis berkelanjutan

Sebuah perusahaan ritel pakaian H&M, melalui H&M Production Office di Indonesia berusaha mendampingi dan memotivasi pabrik-pabrik pemasok untuk ikut serta menjalankan bisnis berkelanjutan.

 

H&M telah berkomitmen menjadi pemimpin perubahan menuju industri mode sirkular, terbarukan, serta menjadi perusahaan yang adil dan setara[1].  H&M berupaya bermitra dengan 1,668 pabrik pemasok[2] di seluruh dunia, termasuk sekitar 131 pabrik pemasok di Indonesia[3], untuk meningkatkan kinerja bisnis keberlanjutan pemasok.

“H&M sadar bahwa kami tidak sendirian. Bukan hanya bisnis kita yang tumbuh tapi bisnis suplier juga tumbuh bersama-sama.” ucap Anya Sapphira, Regional Sustainability Manager H&M.  “Kami dukung dan memberi penghargaan bagi pemasok untuk go beyond dalam program sosial dan lingkungan hidup.”

 

“H&M sadar bahwa kami tidak sendiri. Bisnis kami harus tumbuh bersama dengan bisnis pemasok.” Anya Sapphira, Regional Sustainability Manager H&M.

 


[1]HM. “HM 2017 Sustainability Report”. 2017. https://about.hm.com/content/dam/hmgroup/groupsite/documents/masterlanguage/CSR/reports/2017%20Sustainability%20report/HM_group_SustainabilityReport_2017_FullReport.pdf

[2] Ibid,.

[3] http://sustainability.hm.com/en/sustainability/downloads-resources/resources/supplier-list.html#


 

Source: H&M Sustainability Report 2016

 

“H&M berkomitmen untuk membuat industri fashion lebih transparan. Kami telah belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa transparansi penting bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan, ”kata Anya Sapphira, Manajer & Keberlanjutan Regional H&M.

“Bagi kami transparansi adalah untuk mengetahui di mana dan bagaimana produk kami dibuat untuk memastikan bahwa hak asasi manusia dihormati, kondisi lingkungan yang baik, dan dalam kondisi apa produk dibuat. Penting juga untuk memberitahukaninformasi ini kepada publick.”

 

Bukan  filantrofi: menanamkan keberlanjutan sebagai DNA dari proses bisnis

“Keberlanjutan bukanlah filantrofi. Kami percaya bahwa menghormati HAM dan lingkungan adalah investasi dan peluang bisnis. Tujuan H&M melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut ialah menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang. Oleh karena itu, menanamkan keberlanjutan di rantai pasokan H&M merupakan hal yang penting,” kata Anya.

Filantropi dan kebijakan sustainability diimplementasikan secara terpisah oleh dua institusi yang berbeda. H&M Foundation menangani dana pemilik H&M untuk proyek amal. Sementara Tim Sustainability H&M mengimplementasikan program keberlanjutan yang terkait dengan proses bisnis inti H&M.

“Mengintegrasikan sustainability dalam proses bisnis berbeda dari filantropi dan donasi. Pemasok harus memiliki kapasitas bisnis yang kompetitif, namun tetap berkelanjutan dan bertanggung jawab, ”kata Anya.

“Kami menganalisa proses bisnis pemasok. Bagaimana mereka dapat tetap kompetitif, bebas dari konflik sosial, memiliki hubungan industrial yang baik dan bebas dari pelanggaran upah. Berdasarkan perspektif lingkungan bisnis, ada standar bahan yang berkelanjutan, efisiensi sumber daya, dan pengelolaan limbah, ”jelas Anya.

 

Sumber: H&M 2017 Sustainability Report

 

 

Membangun sistem keberlanjutan berdasarkan kebutuhan pemasok

Perusahaan ritel pakaian dengan penjualan terbesar kedua di dunia pada tahun 2018[4] ini sudah berevolusi dari pendeketan berbasis uji kepatuhan (compliance due diligence) dan berfokus dalam membangun kapasitas dan sistem pemasok.

“Sistem audit hanya menampilkan snapshot yang tidak representatif dalam jangka panjang.” ucap Anya. “Kami hanya menjadikan audit sebagai standar minimum untuk melakukan pembelian, lalu kita berinvestasi di sistem dan kapasitas bisnis berkelanjutan pemasok.”

 


[4] https://www.fastretailing.com/eng/ir/direction/position.html


 

H&M menggunakan metode pelaporan diri Sustainable Apparel Coalition menggunakan piranti lunak Higg Index. Tim Sustainability H&M kemudian akan melakukan verifikasi pelaporan dan menentukan bidang apa yang harus dikembangkan oleh pemasok.

“Kami sadar bahwa kebutuhan pemasok dan unit produksi untuk mencapai tujuan keberlanjutan itu berbeda-beda.” Anya menjelaskan. “Fokus program pengembangan  pemasok tergantung pada kebutuhan masing-masing, contohnya kesehatan dan keselamatan kerja (K3), hubungan industrial dengan pekerja, sistem manajemen limbah, lingkungan, dll.” ucap Anya.

“Ketika kita evaluasi, rata-rata pabrik sudah punya sistem, tapi kadang operasional sehari-hari yang menjadi tantangan.” Ucap Anya.

 

"Compliance itu hanya syarat minimum. We reward the extra mile." – Anya Sapphira, Regional Sustainability Manager H&M

 

“Kadang-kadang ketika peak season kebersihan tidak terjaga, banyak kain perca di lantai. Padahal K3 itu prioritas.” Anya menjelaskan. “Ada juga karyawan yang lebih memilih bekerja di pabrik yang jam lemburnya lebih tinggi untuk mendapatkan bonus lebih tinggi daripada peduli haknya.”

Menurut Tim Sustainability H&M, sosialisasi dan pelatihan melalui Sustainability Supplier Summit menjadi kunci yang utama untuk memastikan sistem dan kebijakan yang sudah ada tertanamkan pada kebiasaan sehari-hari. Kerja sama dengan berbagai forum serikat pekerja, seperti IndustriALL dan lembaga internasional, seperti International Labour Organization juga dilakukan.

 

Source: H&M Sustainability Report 2016

 

Memberikan penghargaan untuk usaha lebih dari pemasok

Compliance itu adalah minimum requirement. We reward the extra mile.” ucap Anya.

"Kami menjadikan keberlanjutan sebagai dasar dari Key Performance Indicator dan ranking supplier." Anya Sapphira, Regional Sustainability Manager H&M

Menurut Anya, memilih pemasok yang lebih peduli sustainability adalah keuntungan bisnis. “Pemasok dengan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang lebih baik cenderung memiliki output produksi yang lebih baik. Pemasok yang memiliki hubungan industrial yang baik juga cenderung lebih stabil dan lebih dapat diandalkan dalam memberikan hasil produksi,” kata Anya.

“Kami menjadikan sustainability sebagai backbone indeks kinerja kunci (KPI) dan ranking pemasok.” Anya menjelaskan. “Cara kami mereward adalah semakin tinggi level ranking pemasok, semakin besar komitmen bisnis dari H&M.”

Hasilnya, beberapa pabrik pemasok H&M ada yang telah memastikan lingkungan kerja yang menghormati hak-hak dan kesetaraan perempuan atau komunitas difabel, juga menggunakan energi tata surya.

 

Mekanisme keluhan: wadah untuk mengikutsertakan berbagai pemangku kepentingan

Sebuah perusahaan kelapa sawit Singapura, Wilmar International Limited (Wilmar), yang memiliki jaringan bisnis di Indonesia, berusaha memastikan penghormatan HAM di praktik usahanya menggunakan mekanisme keluhan (grievance mechanism). Pekerja, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dapat menggunakan mekanisme keluhan ketika terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di operasi bisnis Wilmar.

 

Sumber: Wilmar

 

Wilmar telah berkomitmen untuk menjalankan kebijakan No Deforestation, No Peat, and No Exploitation Policy Commitment (NDPE) sejak tahun 2013. Menerapkan kebijakan tersebut ke lebih dari 1000 pemasok[1], 238.600 hektar perkebunan dan 46 pabrik Wilmar[2] memerlukan pendekatan menyeluruh.

 

“Kami sadar bahwa kami tidak bisa memonitor ribuan pemasok…kami menciptakan wadah aktif di mana keluhan dapat disampaikan.” – Siew Wai, Manajer Prosedur Keluhan Wilmar

 

“Ketika kami mengembangkan kebijakan keluhan, kami sadar bahwa kami tidak bisa memonitor ribuan pemasok. Oleh karena itu, kami menciptakan wadah aktif di mana keluhan dapat disampaikan kepada pihak Wilmar.” Siew Wai, Manajer Prosedur Keluhan Wilmar menjelaskan.

Wilmar memberikan tanggung jawab untuk menindaklanjuti keluhan kepada Komite Keluhan, Tim Verifikasi,  Manajemen Operasi Wilmar, Departemen Pengadaan dan Departemen Berkelanjutan)[3] untuk mengintegrasikan mekanisme keluhan dengan operasi bisnis Wilmar.

“Dengan penunjukan tim mekanisme keluhan, alur tanggung jawab untuk tindak lanjut menjadi lebih jelas daripada sebelumnya.” – Amalia CNV International

 

“Dengan penunjukan tim mekanisme keluhan, alur tanggung jawab untuk tindak lanjut menjadi lebih jelas daripada sebelumnya.” ucap Amalia dari CNV International, lembaga nirlaba mendukung hak-hak buruh.

Sebagai perusahaan kelapa sawit pertama yang membuat sistem keluhan, Wilmar berkonsultasi dengan berbagai LSM dan Roundtable of Sustainable Palm Oil. Mekanisme keluhan juga disesuaikan dengan standar akuntabilitas dan transparansi UN Guiding Principles on Human Rights.

“Wilmar juga bekerja sama dengan Aid Environment dan Rainforest Action Network untuk memperkenalkan mekanisme keluhan melalui lokakarya dengan 300 LSM lokal.” ucap Siew Wai, Manajer Mekanisme Keluhan Wilmar.

Perkembangan keluhan Wilmar dapat diakses oleh publik melalui website[4] dan laporan tahunan[5]. Publik dapat melihat keluhan yang disampaikan dan bagaimana pihak Wilmar menindaklanjuti melalui komunikasi e-mail, verifikasi lapangan dan kegiatan penyelesaian.

 


[1] https://www.wilmar-international.com/docs/default-source/default-document-library/sustainability/supplier-group-compliance.pdf?sfvrsn=714f6297_0

[2] http://www.tft-transparency.org/member/wilmar/what-we-do/

[3] https://www.wilmar-international.com/sustainability/wp-content/uploads/2017/03/Grievance-Procedure-Updated.pdf

[4] https://www.wilmar-international.com/sustainability/grievance-procedure

[5] https://www.wilmar-international.com/sustainability/wp-content/uploads/2018/03/180322_Grievance-update.pdf

 


 

Sumber : https://www.wilmar-international.com/sustainability/grievance-procedure

 

Mekanisme keluhan melengkapi program kepatuhan pemasok

“Walaupun kami sudah berupaya mendampingi pemasok Wilmar untuk mematuhi standar hak asasi melalui program Aggregator Refinery Transformation (ART), kampanye dari LSM mengenai pelanggaran masih berdatangan.” ucap Anselma Faustina, Project Manager The Earthworn Foundation, lembaga nirlaba yang membantu Wilmar mengimplementasikan kebijakan NDPE.

Dari 51 kasus keluhan, hubungan dengan 16 pemasok sudah dihentikan.

“Untuk kasus penebangan hutan, kami akan langsung menghentikan pembelian karena pembuktian melalui satelit mudah dilakukan dan traktor penebang dibawah kendali penuh pemasok untuk dihentikan.” ucap Siew Wai dari Wilmar.

Akan tetapi, tidak semua keluhan berakhir pada pemutusan hubungan bisnis. Keluhan juga bisa ditindaklanjuti melalui program pendampingan pemasok yang berkepanjangan.

“Untuk kasus pelanggaran sosial, kami fokus untuk mengembangkan rencana aksi perbaikan.” Siew Wai menjelaskan tindak lanjut Wilmar. “Karena kasus eksploitasi melibatkan komunitas di lapangan. Kalau hubungan bisnis langsung dihentikan, konflik dilapangan bisa meningkat.” tambah Siew Wai.

Berbagai pemangku kepentingan dapat duduk bersama untuk menindaklanjuti keluhan hak asasi manusia, seperti kasus-kasus dibawah ini.

 

“Karena kasus eksploitasi melibatkan komunitas di lapangan. Kalau hubungan bisnis langsung dihentikan, konflik dilapangan bisa meningkat.” – Siew Wai, Manajer Prosedur Keluhan Wilmar

 

Kasus keluhan hak-hak buruh di Riau

Pada 12 Juni 2017, CNV Interational dan Centre for Research on Multinational Corporations melaporkan berbagai dugaan pelanggaran hak buruh PT MSS, seperti kontrak buruh harian lepas ilegal, jam kerja yang berlebihan, gaji dibawah standar, penggunaan pekerja anak, dan kebebasan berasosiasi yang terbatas.

 

Sumber: Wilmar

 

Wilmar menindaklanjuti keluhan dengan memberikan laporan hasil verifikasi internal di lapangan[6]. Kemudian pihak Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI-Hukatan), CNV, Kementerian Tenaga Kerja Kabupaten Bengkalis, dan PT MSS terus melakukan konsultasi mengenai permasalahan buruh melalui pelatihan hubungan industri, dialog, dan rapat.

 

Kini perusahaan masih dalam tahap perundingan Perjanjian Kerja Bersama dengan serikat buruh. Amalia dari CNV Internasional mengatakan “Hal yang wajar jika PKB melalui proses negosiasi yang memakan waktu. Perusahaan yang penting sudah mau bernegosiasi dan memberikan ruang untuk kebebasan berserikat.”

 


[6] https://www.wilmar-international.com/docs/default-source/default-document-library/sustainability/grievance/wilmars-response-to-somo-22-may-2017.pdf?sfvrsn=8e1b9578_2

https://www.wilmar-international.com/sustainability/wp-content/uploads/2018/05/Collective-Action-with-CNV-Hukatan-KSBSI-Makes-Positive-Impact-in-Labour-Final.pdf


 

https://www.youtube.com/watch?v=Pl-4_1N05uo&t=14s

 

Kasus keluhan hak-hak buruh di Sumatera Utara

Pada bulan Agustus 2016, laporan Amnesty International menemukan dugaan pelanggaran hak-hak buruh di PT DLI dan PT Milano yang merupakan anak perusahaan Wilmar di Sumatera Utara. Pihak Wilmar bertemu dengan Amnesty Internasional pada Desember 2017 untuk membahas rencana tindaklanjut laporan. Wilmar kemudian melakukan asesmen eksternal dengan BSR, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) mengenai dugaan kerja paksa, kurangnya K3, dan perekrutan buruh harian lepas yang tidak sesuai dengan peraturan.

Berdasarkan laporan One Year Progress yang diterbitpan pada tahun 2017, presentase buruh harian lepas di PT DLI dan PT Milano telah turun sebanyak 42%.

 

Sumber: One Year Progress Wilmar

 

Wilmar juga melibatkan serikat buruh untuk memperbaiki kondisi buruh di PT DLI dan PT Milano.

 

Bertemu dengan tim Verité di Indonesia

Sumber: Wilmar

 

“Perjanjian Kerja Bersama antara Serbundo dengan pihak manajemen perusahaan sudah terbangun untuk 2 tahun ini.” ucap Nurhaimah dari Serbundo. “Sekarang kami juga bekerja sama dengan pihak manajemen untuk memberikan perlindungan untuk buruh perempuan di masa depan.” tambah Nurhaimah.

“Perusahaan pemasok kemudian bicara di forum pemasok untuk berbagi pengalaman mereka.” ucap Siew Wai dari Wilmar.  “Ini adalah contoh yang baik. Terkadang ketika pemasok melaksanakan perubahan, tidak semua pemasok merasa nyaman berbicara di depan komunitas pemasok karena khawatir menaikan standar terlalu tinggi.” tambah Siew Wai.

 

Awal pencapaian dari perjalanan panjang

Pada awal tahun 2019, dialog dengan berbagai pemangku kepentingan terus dilakukan untuk menambah beberapa fitur baru dari mekanisme keluhan.

 

“LSM akan terus meningkatkan standar yang tinggi. Wilmar akan selalu menjadi fokus karena kami adalah pedagang kelapa sawit terbesar di dunia.” – Siew Wai Manejer Prosedur Keluhan Wilmar

 

“Salah satu masukan dari komunitas LSM adalah bagaimana menyediakan mekanisme keluhan whistleblower untuk pekerja, tidak hanya laporan dari institusi dan organisasi. Pelapor dapat merahasiakan identitas dirinya demi keselamatan. ” ucap Siew Wai.  “Kami juga akan mulai menjawab laporan keluhan dari media.” tambahnya.

Menurut Amalia dari CNV International, serikat buruh perlu mendapatkan pelatihan membuat keluhan yang baik.

“CNV International memberikan pelatihan kepada buruh supaya semua aduan disertai oleh data, kalau perlu penelitian. Juga harus jelas standar apa yang digunakan, contohnya UU Indonesia atau kriteria RSPO.” menurut Amalia dari CNV.

Menurut Siew Wai, kapasitas tim Wilmar untuk menangani keluhan juga harus terus dibangun.

“Dengan meningkatnya transparansi, tentunya masukan dan kritikan akan terus berdatangan. LSM akan terus meningkatkan standar yang tinggi. Wilmar akan selalu menjadi fokus karena kami adalah pedagang kelapa sawit terbesar di dunia.” ucap Siew Wai dari Wilmar. “Kami akan terus menetapkan standar terbaik untuk industri kelapa sawit sehingga yang lain dapat mengikuti.” ucapnya.

 

 “Kami akan terus menetapkan standar terbaik untuk industri kelapa sawit sehingga yang lain dapat mengikuti.” – Siew Wai Manejer Prosedur Keluhan Wilmar

 

Tentang Wilmar International Limited

Wilmar International adalah sebuah perusahaan publik agribisnis di Singapura. Aktivitas bisnis perusahaan Wilmar meliputi perkebunan kelapa sawit, penyulingan, perdagangan, dan distribusi minyak kelapa sawit. Wilmar diakui sebagai pedagang terbesar di dunia di Kelapa Sawit, mengendalikan sekitar 45% perdagangan global.

 

Pihak yang terlibat

  • Amalia Falah Alam – Country Representative of CNV International
  • Janhavi Naidu dan Anselma Faustina – The Earthworn Foundation
  • Nurhaimah – Serbundo
  • Siew Wai Loo – Grievance Mechanism Manager of Wilmar International Limited

 

 


Catatan: Kisah ini menangkap pengalaman dan pendapat dari berbagai sudut pandang tentang situasi tertentu, dan dirancang untuk berbagi pelajaran tentang beberapa masalah yang terlibat. Ini tidak dimaksudkan untuk menjadi studi kasus yang komprehensif dan juga tidak mengklaim untuk memberikan laporan definitif dari kasus tertentu atau perspektif tentang kasus tersebut.

 

Mengikutsertakan pekerja wanita di industri otomotif

Pembelajaran dari upaya sebuah perusahaan pabrik ban di Indonesia untuk melaksanakan kebijakan sumberdaya manusia dengan perspektif gender yang mendukung hak-hak kesetaraan perempuan.  

 

Sumber: PT Gajah Tunggal

 

PT Gajah Tunggal Tbk. (Gajah Tunggal) adalah salah satu perusahaan pembuat ban di Indonesia yang didirikan pada tahun 1951. Industri otomotif seperti pabrik Gajah Tunggal, seringkali didominasi oleh pria.

“Perusahaan Gajah Tunggal mempunyai hampir 18.000 pekerja. Hanya 2,5% pekerja wanita di pabrik dan 1% pekerja wanita di manajemen perusahaan.” papar Catharina Widjaja, Direktur Komunikasi dan Hubungan Investor PT Gajah Tunggal Tbk di acara Dialog Multi-stakeholder bertemakan ‘Memahami Hak-Hak Perempuan di Tempat Kerja’ yang diselenggarakan oleh Indonesia Global Compact Network (IGCN) pada tanggal 19 Oktober 2018.

“Mungkin ada prasangka bahwa perusahaan pabrik ban adalah industri pria dan tidak ramah bagi perempuan.” ungkap Catharina.

 

 

Untuk mengikutsertakan wanita di dalam industri yang didominasi pria, Gajah Tunggal berusaha meninjau praktik perusahaan.

“Perusahaan kami melihat pegawai setara. Lowongan pekerjaan Gajah Tunggal tidak ada yang lebih mengutamakan pria atau wanita.” Catharina menjelaskan. “Perjanjian Kerja Bersama (PKB) juga telah mencakup hak cuti hamil sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan dari pemerintah.” imbuh Catharina.

“Perusahaan kami melihat pegawai setara. Lowongan pekerjaan Gajah Tunggal tidak ada yang lebih mengutamakan pria atau wanita.” – Catharina Widjaja, Direktur Komunikasi dan Hubungan Investor PT Gajah Tunggal Tbk

Gajah Tunggal berupaya untuk meningkatkan representasi wanita di perusahaan di masa depan. “Kami menargetkan setidaknya pelamar kerja terdiri dari 50 persen perempuan dan 50 persen laki-laki. Ini bukan kuota pekerja. Tetapi upaya kami menarik lebih banyak pelamar kerja wanita.” kata Catharina. “Proses penyeleksian pekerja kemudian diperlakukan sama berdasarkan kompetensi.” tambahnya.

Menurut Catharina, tantangan ke depan adalah mengubah cara pandang yang menghalangi wanita untuk menduduki posisi yang lebih tinggi. “Beberapa kasus pegawai menolak untuk dipromosikan karena mereka tidak mau lebih tinggi dari suami atau tidak mau pekerjaan lebih karena tanggung jawab di rumah.” Catharina menjelaskan.

“Jika kamu ingin diperlakukan setara, kamu harus merasa setara.” – Catharina Widjaja, Direktur Komunikasi dan Hubungan Investor PT Gajah Tunggal Tbk

Catharina sendiri sebagai minoritas perempuan di tatanan usaha Gajah Tunggal memberikan saran sukses bagi pekerja wanita “Secara prinsip, walaupun anda wanita atau pria, anda harus meraih KPI (Key Performance Indicator) yang sama. Jika kamu ingin diperlakukan setara, kamu harus merasa setara.” ucap Catharina.

Membuka Pasar Ekspor dengan Peduli Hak-Hak Petani Pemasok

Perusahaan makanan PT Kampung Kearifan Indonesia (JAVARA) sukses di pasar ekspor melalui kepedulian terhadap hak-hak dan kesejahteraan petani pemasok.

 

“JAVARA bertujan untuk memberdayakan petani sebagai mitra dan pemasok.” – Tantrie Soetjipto, Marketing Director JAVARA

 

Terinspirasi oleh kekayaan ragam hayati pangan Indonesia, tradisi budaya kuliner dan kearifan lokal nusantara, Javara didirikan oelh Helianti Hilman pada tahun 2008 untuk membawa produk pangan artisan terbaik dari berbagai pelosok Indonesia ke panggung dunia. Dengan mengkombinasikan pemanfaatan bahan-bahan lokal terbaik, resep-resep kuno, metode tradisional dengan pendekatan pengolahan secara modern, kami menghadirkan produk terbaik yang otentik, unik dan sekaligus mengikuti trend pangan global dan persyaratan keamanan pangan dunia.

Mengusung sistem perdagangan yang transparan dan saling menguntungkan, dan berdasarkan prinsip-prinsip bermoral. Produk-produk JAVARA bersifat artisanal, organik, alami dan memiliki keunikan baik secara jenis, kualitas maupun asal-usul. Bermitra dengan sekitar 52,000 petani,  perimba dan nelayan dari Aceh hingga Papua. Javara saat ini telah mengeluarkan produk lebih dari 900 produk,  dimana  lebih 300 produk organik  telah bersertifikasi international sesuai dengan standar Uni Eropa, Amerika Serikat (US NOP) dan Jepang (JAS). Selain pemasaran dalam negeri, Javara juga telah melakukan ekspor ke 23 negara di 5 benua.

 

Sumber: www.javara.co.id

Berawal dari hanya 10 petani dan 8 produk, kini JAVARA telah bekerja sama dengan 50,000 petani di seluruh Indonesia dan menjual 600 produk pengrajin. enis produk dari beras, kopi, madu, aneka rempah, kokoa, kacang mete, gula aren, minyak kelapa, selai, pisang, bumbu, rumput laut dan berbagai jenis produk lainnya berhasil mendapatkan apresiasi dari sejumlah negara lain. 85% dari penjualan JAVARA berasal dari pasar ekspor, dengan Eropa dan Amerika Utara sebagai tujuan utama pemasaran. Perusahaan tersebut juga telah memasok ke lebih dari 300 perusahaan retailer, hotel, dan kuliner di Indonesia[1].

 


[1] http://www.britcham.or.id/assets/files/Bio%20-%20Helianti%20Hilman.pdf


 

Sumber: www.javara.co.id

 

Logo siluet petani JAVARA menunjukan komitmen JAVARA untuk memberdayakan petani lokal sebagai jati diri perusahaan. “JAVARA bertujan untuk memberdayakan petani sebagai mitra dan pemasok. Contohnya, JAVARA membayar langung petani pemasok dimuka setelah melakukan pemesan pembelian. Sistem ini mempermudah petani untuk modal menjalankan usahanya.” Tantrie Soetjipto, Marketing Director, menjelaskan di acara dialog multi-stakeholder yang bertemakan ‘Memahami Hak-Hak Perempuan di Tempat Kerja’ yang diselenggarakan oleh Indonesia Global Compact Network pada tanggal 19 Oktober 2018.

“Melalui program Sekolah Seniman Pangan, JAVARA juga melakukan pelatihan bagi petani untuk menaikan nilai tambah produk mereka.” Tantrie menjelaskan. “Contohnya, bagaimana membuat branding keripik dari buah-buahan segar. Sehingga petani pun menikmati nilai jual yang lebih besar.”

 

“Program Sekolah Seniman Pangan memberikan wawasan bagi petani mulai dari perkebunan hingga pemasaran ke pasar.” Nando, alumni Sekolah Seniman Pangan JAVARA.

 

Salah satu petani lulusan Sekolah Seniman Pangan adalah Nando, aktivis petani sorgum yang berasal dari NTT. Pada tahun 2016 setelah menyelesaikan beasiswa di Amerika Serikat, Nando menjadi petani mitra JAVARA.

“Program Sekolah Seniman Pangan memberikan wawasan bagi petani mulai dari perkebunan hingga pemasaran ke pasar.” ucap Nando. “Program ini juga menyemangati pemuda untuk kembali melestarikan budaya pertanian leluhur dan menjaga hak-hak tanah adat.” tambah Nando.

JAVARA juga memastikan sumber produknya dapat dilacak (traceable) langsung ke petani. Kemitraan yang sangat dekat dengan petani memastikan produk dibuat dengan cara-cara yang dapat diteliti kualitasnya.

 

Sumber: www.javara.co.id

 

Untuk menembus pasar ekspor, JAVARA mengikuti standar sertifikasi luar negeri yang diterapkan di Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. “Setiap 2 tahun JAVARA akan diaudit oleh badan sertifikasi  international mengenai kualifikasi hak asasi manusia( tidak memperkerjaan anak2, kerja paksa, lingkup kerja yang aman) dan   standar-standar ethical  trade.” ucap Tantrie Soetjipto-Director.

 

“Itu adalah sebuah keputusan bisnis untuk menentukan bisnis apa yang ingin perusahaan jalankan. JAVARA sudah berkomitmen sejak awal untuk menjadi sebuah bisnis sosial.” – Tantrie Soetjipto, Marketing Director JAVARA

 

Ketika ditanya oleh salah satu peserta dialog mengenai keuntungan perusahaan menghormati HAM, Tantrie pun menjawab, “Itu adalah sebuah keputusan bisnis untuk menentukan bisnis apa yang ingin perusahaan jalankan. JAVARA sudah berkomitmen sejak awal untuk menjadi sebuah bisnis sosial.”

 

Limbah Tali Strapping untuk Pemberdayaan Ekonomi Wanita

PT Indah Kiat Perawang Mill, bagian dari Asia Pulp and Paper Group, mengadakan program bisnis pengolahan limbah tali strapping sebagai upaya pemberdayaan wanita. Kegiatan ini berhasil menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat yang memerlukan, terlebih bagi para wanita untuk memanfaatkan waktu luangnya. United Nation Development Program (UNDP) mengatakan bahwa kesempatan penciptaan lapangan kerja bagi yang memerlukan termasuk dalam konsep inklusi pasar yang terus dikembangkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan. Atas keberhasilan pengrajin tali strapping ini, PT Indah Kiat Perawang Mill mendapatkan apresiasi Indonesia Green Award pada tahun 2014. 

Tali strapping adalah tali plastik pengikat palet, dimana palet tersebut digunakan oleh PT Indah Kiat Perawang Mill untuk mengemas material hasil produksi seperti kertas dan pulp. Ide menggunakan tali strapping yang tidak dapat dipakai lagi oleh perusahaan untuk kerajinan anyaman dimulai oleh Muhammad Nur, seorang mantan karyawan PT Indah Kiat Perawang Mill. Ternyata hasil anyaman tersebut cukup bagus dan kuat. Bapak Nur kemudian mengajukan kepada perusahaan melalui tim program pengembangan masyarakat sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CD-CSR) untuk memanfaatkan tali strapping yang tidak terpakai.

 

 

Tali Strapping Memberdayakan Kaum Wanita

Kerajinan anyaman tali strapping ini semakin berkembang dari hanya usaha utama keluarga Pak Nur (setelah mengundurkan diri sebagai karyawan untuk fokus dalam mengembangkan usahanya) dan istrinya Bu Nurlis, menjadi salah satu sumber penghidupan beberapa keluarga di Desa Tualang. Para pengrajin ini membentuk kelompok yang dinamakan ‘Tunas Harapan’ dari jumlah awal kurang lebih 45 orang ibu rumah tangga yang berasal dari 4 RT, saat ini berkembang menjadi 95 anggota (L: 5, P:90). Selain kelompok Tunas harapan, PT Indah Kiat Perawang juga memberdayakan 1 kelompok lagi dengan anggota 30 orang di Desa Pinang Sebatang Kecamatan Tualang Kabupaten Siak.

 

Mayoritas anggota kelompok pengrajin adalah ibu rumah tangga. Hal ini berawal dari pemikiran dengan melihat kondisi para wanita di desanya yang kebanyakan terpaksa harus bekerja diluar rumah, yang salah satunya dengan menjadi pegawai kontrak/outsourcing di perusahaan swasta untuk membantu penghasilan suami, sementara tidak ada yang mengurus anak-anaknya di rumah. Beberapa kejadian menyebabkan anak-anak yang tidak mendapat perhatian orang tuanya ini mengalami kecelakaan misalnya tenggelam pada saat bermain di sungai.

Dengan program pemberdayaan wanita ini, PT Indah Kiat Perawang berharap para wanita tersebut selain bisa mempunyai pendapatan, mereka tetap bisa menjaga anak-anaknya dengan baik.

Semua kebutuhan material untuk membuat anyaman akan dikirimkan ke rumah mereka masing-masing, begitupun hasil anyamannya akan diambil oleh Pak Nurlis. Pak Nurlis mengantar material dan menjemput hasil anyaman itu hanya bermodalkan gerobak dan sepeda motornya.

Bu Nurlis tidak pernah melewatkan catatan untuk semua pengeluaran, pemasukan, barang masuk dan keluar dari hasil usaha ini. Para suami kelompok wanita pengrajin ini juga siap membantu setelah mereka pulang kerja.

PT Indah Kiat tidak hanya memberikan kesempatan untuk memanfaatkan tali strapping ini tapi juga memberikan pemahaman kepada anggota kelompok Tunas Harapan untuk saling membantu dalam keluarga. Setiap bulan, ratusan barang kerajinan terjual dan penjualannya pun semakin luas. Permintaan tidak hanya datang dari kota-kota di Provinsi Riau, tapi juga dari Sumatra Barat. Volume tali strapping yang digunakan juga meningkat. Hingga akhir 2018, setiap bulan secara total ada dua ton tali strapping yang digunakan sebagai bahan baku anyaman. Tali ini seluruhnya dibeli dari PT Indah Kiat Perawang Mill. Sinergi ini merupakan salah satu konsep pengembangan masyarakat yang dianut oleh PT Indah Kiat dengan menunjukkan adanya keterukuran antara meningkatnya bisnis perusahaan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai mitra yang tumbuh bersama.

Hasil penjualan tali strapping yang dibeli oleh kelompok pengrajin dikembalikan Indah Kiat Perawang ke Kelompok Perajin Tunas Harapan. Pengembalian ini dalam bentuk bantuan pembangunan fasilitas pendukung, di antaranya sumur bor, pompa dan kolam pencucian. Selain itu perusahaan juga membeli barang-barang kerajinan sebagai cindera mata dan memfasilitasi keikutsertaan pengrajin dalam berbagai pameran.

 

 

Manfaat dan Pembelajaran

Keberhasilan Kelompok Perajin Tunas Harapan dalam memperluas pasar di luar wilayahnya mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Usaha yang gigih, kerja keras, kebersamaan dan kesadaran untuk saling mendukung dalam keluarga menjadi poin keberhasilan individu dan kelompok.

Upah yang mereka terima rata-rata berkisar Rp 800.000 hingga Rp 1.500.000 bahkan bisa lebih jika pesanan banyak, terutama saat bulan-bulan perayaan. Nilai ini merupakan tambahan penghasilan (sekitar 40% dari upah minimum daerah Perawang) yang sangat bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

"Saya mendapatkan penghasilan antara Rp 900.000 - Rp 1.200.000, namun saya lebih suka mengumpulkannya dulu dan baru mengambilnya dalam beberapa bulan atau pada saat ada kebutuhan. Uang itu saya kumpulkan untuk kemudian saya belikan perhiasan atau kebutuhan sekolah anak," kata Dahlia, 36 tahun, salah satu pengrajin anyaman tali strapping.

Nurlis, istri Pak Nur, bendahara Kelompok Tunas Harapan mengatakan bahwa,  "Ibu-Ibu anggota kelompok lebih suka mengumpulkan hasil perolehan pendapatan mereka. Jika sudah terkumpul banyak mereka baru akan mengambilnya untuk berbagai keperluan. Ke depan kami ingin membentuk koperasi bersama yang bisa membantu  untuk memenuhi kebutuhan anggota Kelompok."

Beasiswa terapis spa untuk memberdayakan wanita

Perusahaan kosmetik dan kecantikan Martha Tilaar Group (MTG) memberikan beasiswa terapis spa untuk membangun kapasitas pekerja dan memberdayakan wanita. IGCN bertanya jawab dengan perwakilan MTG mengenai program tersebut.

 

 

1. Apa latar belakang dari beasiswa terapis spa?

Martha Tilaar Group sangat peduli pada pemberdayaan perempuan sebagai bukti perwujudan dari salah satu pilarnya yaitu Empowering Women. Martha Tilaar Group membuat program melalui pemberian beasiswa terapis spa kepada perempuan-perempuan Indonesia yang merupakan kepedulian Ibu Dr. (H.C) Martha Tilaar melihat banyaknya perempuan di wilayah pedesaan di Indonesia yang masih memilih sebagai Tenaga Kerja Wanita ke luar negeri yang sangat rentan dan bahkan tidak sedikit yang menjadi korban perdagangan perempuan (Women trafficking), untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga membantu orang tuanya.

 

2. Apa tujuan dari program beasiswa terapis spa? 

Tujuan dari program beasiswa terapis spa ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada para perempuan Indonesia khususnya yang berasal dari daerah agar lebih mandiri dan terampil. Setelah lulus, para penerima beasiswa diharapkan bukan hanya dapat menjadi pekerja, namun dapat pula menjadi wirausahawan mandiri.  Sehingga mereka dapat lebih percaya diri dan bisa menempatkan diri sejajar dengan lelaki, baik dalam relasi profesional maupun personal.

Selain itu, dari sisi budaya, program ini diharapkan dapat membantu dalam menjaga kelestarian teknik spa tradisional khas Nusantara. Martha Tilaar Spa telah melakukan penelitian dan mengembangkan beberapa teknik spa tradisional khas Indonesia yang antara lain adalah Bakera (Minahasa), Batimung (Kalimantan Selatan), Boreh (Bali), Kendedes, dan lain sebagainya.

 

3. Bagaimana beasiswa terapis spa dapat memberdayakan wanita?

Melalui program ini, penerima beasiswa akan diberikan pelatihan berbagai modul, yang terdiri dari soft skill dan hard skill.

Soft skill meliputi pelatihan hospitality, kepemimpinan, juga pengaturan keuangan pribadi (Financial literacy). Sedangkan pelatihan hard skill meliputi teknik melakukan terapi spa, medicure, pedicure, potong rambut, makeup, dll.

Selain itu, nilai-nilai DJITU (Disiplin, Jujur, Iman/Inovatif, Tekun, Ulet) juga ditanamkan kepada penerima beasiswa. DJITU sendiri merupakan kunci keberhasilan Ibu Martha Tilaar dalam menjalankan setiap kegiatan perusahaan. Diharapkan para penerima beasiswa tersebut dapat meneruskan jejak Ibu Martha Tilaar dalam mengharumkan nama bangsa.

Melalui pengkayaan ilmu pengetahuan dan keterampilan khususnya di bidang Spa terapi, maka para perempuan ini akan mampu mandiri dalam membantu perekonomian keluarga dan menjadikan contoh bagi perempuan lainnya untuk dapat berjuang di negeri sendiri demi meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Dengan makin berdayanya para perempuan Indonesia di berbagai bidang serta bisa terlibat langsung dalam berbagai posisi pekerjaan di dalam negri maka potensi perempuan yang selama ini tidak nampak, akan terangkat dan dapat berperan aktif membangun negri sendiri.

 

 

4. Bagaimana beasiswa terapis spa dilaksanakan?

Program beasiswa terapis spa ini dapat diikuti oleh semua perempuan lulusan SMK, SMA atau yang sederajat. Bagi yang berminat dapat mendaftar langsung kepada tim rekruitmen dari tempat kami. Tim rekrutmen ini juga biasanya akan mengunjungi sekolah-sekolah untuk mensosialisasikan program ini. Peserta harus bersedia mengikuti pendidikan selama 3-6 bulan di Martha Tilaar Training Center dengan kesanggupan mengikuti pelatihan secara penuh dan disiplin serta bersedia ditempatkan dimanapun di seluruh gerai MT Salon and Spa.

Selain mendapatkan materi pembelajaran, para peserta pun akan mendapatkan fasilitas lain yaitu seragam pendidikan dan pelatihan, uang saku setiap bulan selama training, tunjangan makan 3 kali sehari dan mess tempat tinggal. Selama mengikuti program ini, para peserta tidak dipungut biaya apapun. Tidak hanya itu, setelah lulus para peserta akan ditempatkan di Martha Tilaar Salon yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri.

 

5. Apa keuntungan bagi MTG untuk melaksanakan beasiswa terapis spa?
Keuntungan bagi perusahaan adalah cukup tersedianya terapis Spa yang professional dengan standard dan kualitas tinggi serta memiliki kedisiplinan dan attitude yang baik dan sesuai dengan kriteria Spa modern dan syariah. Para terapis ini nantinya akan ditempatkan di seluruh gerai Martha Tilaar Salon dan Spa yang tersebar luas di seluruh Indonesia dan juga di luar negri. Pemenuhan Spa terapis yang berkualitas ini merupakan faktor penting bagi keberlangsungan bisnis Spa. Disamping itu dengan terpais spa yang berkualitas dan professional maka akan dapat meningkatkan image Spa yang sebenarnya sebagai terapi kesehatan dan kecantikan alami dan asli Indonesia, dan sekaligus dapat merubah image buruk spa yang selama ini berkembang di masyarakat.

Lebih jauh, melalui Beasiswa Terapis Spa ini, Martha Tilaar Group akan dapat mewujudkan harapan-harapan pendiri perusahaan dalam rangka memberdayakan perempuan Indonesia serta turut membantu meningkatkan taraf hidup keluarga kelas menengah bawah melalui kemandirian perempuan dalam rumah tangga. Hal ini akan dapat terwujud dengan adanya pembekalan bagi para perempuan berupa pelatihan dan pendidikan terapis spa.

 

6. Apa tantangan yang dihadapi ketika melaksanakan beasiswa terapis spa?

 Dalam perjalanannya pelaksanaan program ini juga menghadapi tantangan yaitu terjadinya konflik dengan para penyalur tenaga kerja, dimana menurut mereka bahwa kami akan mengurangi lahan kerja mereka, karena dengan program kami ini maka akan lebih banyak perempuan yang melek pengetahuan dan terbuka wawasan, bahwa untuk dapat bekerja mencari uang itu tidak hanya pergi ke luar negri, tetapi bisa dilakukan di negri sendiri asalkan kita punya ilmu dan keterampilan.

Tantangan juga datang dari para trainee sendiri, dimana sering kita temukan ada peserta yang ingin pulang sebelum pelatihan berakhir atau bahkan baru beberapa hari tinggal di training center sudah tidak kerasan dan minta pulang, mungkin karena tidak terbiasa tinggal terpisah rumah dan keluarganya. Selain itu, dengan persyaratan pernyataan kesanggupan ditempatkan dimana saja di wilayah Indonesia juga merupakan pertimbangan yang cukup berat bagi seorang perempuan dan keluarganya, sehingga saat seleksi penjaringan mereka mengundurkan diri.

 

 

7. Apa keberhasilan yang dicapai dari beasiswa terapis spa?

Martha Tilaar Group hingga saat ini telah melatih lebih dari 6.000 terapis dan sudah bekerja di seluruh gerai/outlet Salon dan Spa kami, dan mereka telah mampu mandiri dan membantu perekonomian keluarganya di kampung. Bahkan ada dari mereka yang sekarang telah sukses sebagai pebisnis di bidang Salon dan Spa baik di daerahnya maupun di kota-kota besar lainnya.

Berkat program ini juga Ibu Dr. (H.C) Martha Tilaar diajukan oleh sebuah NGO Perancis ke UN pada tahun 2000 untuk menjadi salah satu deklarator UNGC (United Nation Global Compact) yang diprakarsai oleh Sekjen PBB waktu itu, Koffi Annan. Deklarator UNGC waktu itu (th.2000) adalah para pendiri perusahaan besar dunia, dan hanya ibu DR. Martha Tilaar yang berasal dari Indonesia, sebagai pendiri Martha Tilaar Group karena sebagai perusahaan swasta nasional dinilai telah berhasil dalam melaksanakan menerapkan prinsip-prinsip Global Compact.

Selain telah mendapatkan penghargaan di tingkat dunia melalui UNGC yaitu Lifetime Commitment di tahun 2010 serta terpilihnya sebagai anggota Board of UNGC yang diketuai langsung oleh Sekjen PBB, hingga pada tahun 2018 di bulan September kemarin mendapatkan penghargaan SDGs Pioneer untuk kategori “Advancing sustainability through community engagement” dari sepuluh penghargaan yang diberikan kepada para pemilik perusahaan di seluruh dunia, dan sekaligus menjadi perempuan pertama Indonesia yang dipilih oleh UN Global Compact.

 

8. Bagaimana program beasiswa terapis spa dapat menjadi lebih baik lagi di masa depan?

Ke depannya perlu adanya sosialisasi lebih luas dan lebih jelas kepada para permpuan muda Indonesia dan masyarakat luas pada umumnya di seluruh wilayah di Indonesia, agar para perempuan Indonesia mempunyai wawasan yang lebih luas hingga mempunyai  keinginan untuk lebih mandiri dan sukses. Dengan dukungan keluarga dan orangtua maka para perempuan muda ini bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program yang baik ini sehingga diharapkan dapat membawa banyak manfaat bagi dirinya sebagai terapis professional serta mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain di kemudian hari. Dengan dukungan keluarga dan orangtua maka anak-anak remaja ini nantinya dapat mengikuti pelatihan secara penuh dan juga dapat menjadi terapis spa profesional di manapun di seluruh Indonesia, yang pada akhirnya akan dapat membantu perekonomian keluarga dan meningkatkan taraf hidup anggota keluarga.

 

Melibatkan Peran Serta Masyarakat pada Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit melalui Perencanaan Konservasi Partisipatif

Pembelajaran dari upaya sebuah perusahaan kelapa sawit di Indonesia untuk mengikutsertakan masyarakat di sekitar wilayah konsesi dalam rencana melibatkan peran serta perusahaan melalui Perencanaan Konservasi Partisipatif (Participatory Conservation Planning).

 

 

Sumber: www.smart-tbk.com

 

Sinar Mas Agribusiness and Food, yang berdiri pada tahun 1962, adalah anak perusahaan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia yang bernama Golden Agri-Resources. Sinar Mas Agribusiness and Food yang beroperasi di bawah Golden Agri-Resources (GAR) adalah salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka dengan total luas areal tanam di Indonesia mencapai lebih dari 500.345 hektar (termasuk kebun milik petani swadaya) per tanggal 31 Maret 2018. Perusahaan memiliki operasi terpadu yang memproduksi bahan pangan yang berbahan baku minyak nabati.

Sinar Mas Agribusiness and Food fokus pada produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan. Di Indonesia, kegiatan utamanya meliputi budidaya dan pemanenan pohon kelapa sawit; pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit; penyulingan CPO menjadi produk dengan nilai tambah seperti minyak goreng, margarin, shortening dan biodiesel; serta perdagangan produk kelapa sawit ke seluruh dunia. Perusahaan juga beroperasi di Tiongkok dan India dengan memiliki pelabuhan, pabrik penghancur biji sawit, memproduksi berbagai produk minyak nabati olahan, serta produk makanan lainnya seperti mie.

Kepastian kepemilikan dan izin tanah merupakan hal yang krusial dalam menjalankan bisnis perkebunan kelapa sawit Sinar Mas Agribusiness and Food yang mencakup lebih dari 138,000 hektar (termasuk perkebunan plasma).

Jika Sinar Mas Agribusiness and Food memiliki sebidang tanah atau mendapatkan izin dari pemerintah kabupaten untuk beroperasi di wilayah tersebut, apakah Sinar Mas Agribusiness and Foodmemiliki hak sepenuhnya untuk memutuskan apa yang akan dilakukan dengan tanah tersebut? Kenyataanya, kepemilikan tanah bisa menjadi hal yang abu-abu karena seringkali masyarakat setempat mengklaim kepemilikan secara adat atas wilayah tempat tinggal mereka, meski tanpa dokumentasi resmi.

 

“Sering kali terjadi dilema ketika pilihan dari suatu sumberdaya adalah untuk dilindungi berdasarkan penelitian, tapi di satu sisi keterikatan dan kebutuhan masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya alam tersebut sebagai kebutuhan ekonomi.” ucap Wirendro Sumargo, selaku Head of Tim FPIC.

 

 

 

Persetujuan diawal tanpa paksaan (Free Prior Informed Consent)

FPIC menjadi solusi Sinar Mas Agribusiness and Food untuk memperjelas wilayah konsesi, wilayah konservasi, dan wilayah masyarakat. Kebijakan ini adalah praktik yang dikembangkan untuk menghormati hak tanah masyarakat adat.

 

“Karena tindakan kami memberikan dampak pada masyarakat, kami memastikan Free, Prior and Informed Consent (FPIC) dari  mereka melalui konsultasi dan diskusi sebelum memulai pengembangan dan konservasi lahan.” –Sinar Mas Agribusiness and Food

 

FPIC merupakan bagian dari Social and Community Engagement Policy, yang ada semenjak November 2011. Sebagaimana dinyatakan di website Sinar Mas Agribusiness and Food, yang menyatakan bahwa tindakan perusahaan memberikan dampak pada masyarakat, Sinar Mas Agribusiness and Food memastikan Free, Prior and Informed Consent (FPIC) dari  mereka melalui konsultasi dan diskusi sebelum memulai pengembangan dan konservasi lahan.”

“Prinsip FPIC ini tidak hanya dalam bentuk penolakan atau persetujuan suatu proyek pembangunan perkebunan, tapi juga proses pemberian informasi yang lengkap dan memadai tentang dampak ekonomi, sosial, budaya dan dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan dengan adanya proyek tersebut.” jelas Head of FPIC Sinar Mas Agribusiness and Food.

 

Menjembatani persepsi: berawal dari Perencanaan Konservasi Partisipatif hingga menjadi Peraturan Desa

Source: Sinar Mas Agribusiness and Food

 

Pada tahun 2015, Sinar Mas Agribusiness and Food didampingi oleh The Earthworm Foundation memperkenalkan Perencanaan Konservasi Partisipatif (Participatory Conservation Planning/PCP) di Desa Penai dan 11 desa lainnya di Kalimantan Barat. PCP adalah sebuah proses pemetaan melalui pendekatan tataruang desa dan konsultasi dengan masyarakat sekitar (desa) untuk menentukan wilayah mana yang dapat digunakan untuk usaha Sinar Mas Agribusiness and Food, konservasi (lindung) dan area yang dapat digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat ke depan.

Proses PCP dimulai dengan melakukan kajian High Carbon Stock (HCS) dan High Conservation Value (HCV) untuk wilayah konservasi. Kemudian, Participatory Mapping dilakukan untuk menentukan wilayah mana yang memiliki nilai sosial, spiritual, lindung dan budidaya bagi masyarakat desa setempat. Masyarakat, Sinar Mas Agribusiness and Food, dan pemerintah desa kemudian duduk bersama untuk menyetujui rencana penggunaan lahan konsesi, konservasi, atau untuk dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat.

“Akan dilakukan penyusunan draft laporan, draft peta arahan pola dan tata ruang sekaligus draft peta konservasi yang akan disampaikan melalui Konsultasi Publik yang melibatkan masyarakat desa dan pihak terkait seperti, Pemerintah Daerah (Bappeda, BPN, Dinas Terkait), Perwakilan Akademisi dan LSM untuk mendapat masukan dan saran dari proses kegiatan PCP,” Bapak Wirendro Sumargo sebagai Head of FPIC Sinar Mas Agribusiness and Food menjelaskan.

Menurut Fahreza Hidayat, Senior Management Team di The Earthworm Foundation, pihak perusahaan juga harus memahami kebutuhan desa. “Contohnya, penduduk desa mungkin membutuhkan dukungan untuk mengembangkan sumber mata pencaharian atau pertanian,” tambah Fahreza.  

Di Desa Penai di Kalimantan Barat, hasil dan proses PCP telah menjadi sebuah Peraturan Desa (Perdes). “Perdes menjadikan proses PCP menjadi bagian kerangka kerja institusi desa. Perdes penting untuk menganggarkan dana desa untuk melaksanakan rencana kegiatan hasil PCP,” ungkap Fahreza.

“Tujuan Perdes tersebut, agar nanti anak cucu kami masih bisa melihat hutan, dan masih bisa menggantungkan hidup dengan hutan lestari tersebut,” Tambah Paulus.

 

Sebuah capaian dari proses yang panjang  

Source: Tribunnews

 

Sinar Mas Agribusiness and Food berharap bahwa hasil PCP dapat dimasukkan ke Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Desa. “tujuannya adalah masyarakat desa mempunyai rencana pembangunan desa yang berwawasan lingkungan dimana dalam pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam desa memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan,” kata Bapak Wirendro Sumargo selaku Head of FPIC Sinar Mas Agribusiness and Food.

Proses pemetaan partisipatif tidaklah selalu berjalan lancar. “Terkadang beberapa masyarakat tidak ingin berpartisipasi dalam proses pemetaan karena mereka merasa perusahaan mencuri tanah mereka,” ucap Fahreza. The Earthworm Foundation berperan untuk menjembatani antara kepentingan perusahaan dan masyarakat ketika hal ini terjadi.

 

“Kita harus mencari keseimbangan perwakilan dari berbagai fraksi dan kepentingan di masyarakat.” – Fahreza, The Earthworm Foundation Senior Management Team

 

Keraguan masyarakat mengenai representasi perwakilan masyarakat dalam proses PCP juga bisa menjadi persoalan. “Kita harus mencari keseimbangan perwakilan dari berbagai fraksi dan kepentingan di masyarakat. Contohnya, walaupun kenyataan mayoritas petinggi desa adalah laki-laki, kita harus memikirkan bagaimana memberikan suara yang lebih luas untuk penduduk wanita,” ucap Fahreza dari The Earthworm Foundation.  

Dukungan lebih dari pemerintah juga perlu untuk memberikan insentif bagi perusahaan untuk dapat melakukan PCP lebih luas lagi. “perlu diadakannya insentif finansial agar perusahaan kecil dan menengah, yang tidak memiliki sumber daya sebesar Sinar Mas Agribusiness and Food, juga dapat melaksanakan PCP,” tambah Fahreza.

 

Pihak yang terlibat di dalam Kisah Lapangan ini:

Free Prior Informed Consent Team dan Wirendro Sumargo, sebagai Head of FPIC Department.

Fahreza Hidayat, Senior Management Team, The Earthworm Foundation

 

Disclaimer

Catatan: Kisah ini menangkap pengalaman dan pendapat dari berbagai sudut pandang tentang situasi tertentu, dan dirancang untuk berbagi pelajaran tentang beberapa masalah yang terlibat. Ini tidak dimaksudkan untuk menjadi studi kasus yang komprehensif dan juga tidak mengklaim untuk memberikan laporan definitif dari kasus tertentu atau perspektif tentang kasus tersebut.

 

Asesmen Dampak HAM di Rantai Pasokan Kelapa Sawit Menganalisa Masalah Ketenagakerjaan Lebih Luas dari Sistem Audit

Pada tahun 2017 Nestlé meminta the Danish Institute for Human Rights (DIHR) danThe Forest Trust (TFT)* untuk melakukan studi dampak aktual dan potensial Nestlé terhadap hak asasi manusia, khususnya hak-hak pekerja dalam rantai pasokan minyak sawit di Indonesia. Asesmen dampak HAM berusaha membahas isu ketenagakerjaan lebih luas daripada sistem audit.

Sebagai perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia, Nestlé membeli 460.000 ton (2016) minyak sawit setiap tahun untuk produksi[1]. Sebagian besar persentase minyak sawit ini berasal dari Indonesia.

 

Sumber: The Forest Trust

 


[1]*The Forest Trust Indonesia has become Earthworm Foundation per January 2019 https://www.earthworm.org/

Danish Institute for Human Rights dan The Forest Trust. “Kajian Hak Pekerja: Rantai Pasok Minyak Kelapa Sawit Nestlé di Indonesia”. 2018.


 

Pada tahun 2017, Nestlé meminta Institut Denmark untuk Hak Asasi Manusia (DIHR) dan The Forest Trust Indonesia (TFT) (dikenal sebagai Earthworm Foundation sejak Januari 2019) untuk melakukan studi tentang dampak aktual dan potensial Nestlé terhadap hak asasi manusia, khususnya hak-hak pekerja dalam rantai pasokan minyak sawit di Indonesia. Earthworm Foundation adalah organisasi nirlaba yang dibangun berdasarkan nilai-nilai dan didorong oleh keinginan untuk mempengaruhi hubungan antara manusia dan alam secara positif. EF bekerja sama dengan 64 perusahaan di dunia, termasuk Nestle.

 

 “Kami mencoba memahami dampak hak asasi manusia di seluruh rantai pasokan dari petani kecil hingga kilang minyak, bersama dengan agen perantara di setiap tahap” Janhavi Naidu, ’Respect’ Programme Manager The Forest Trust TFT (diubah menjadi Earthworm Foundation pada  January 2019).

 

“Penelitian ini bertujuan memiliki cakupan yang lebih luas dari audit kepatuhan pabrik atau perkebunan. Kami mencoba memahami dampak hak asasi manusia di seluruh rantai pasokan dari petani kecil hingga kilang minyak, bersama dengan agen perantara di setiap tahap," ucap Janhavi,  ‘Respect’ Programme Manager, The Forest Trust.

 

Sumber: Danish Institute for Human Rights and The Forest Trust

 

Sebagai salah satu pemasok terbesar minyak kelapa sawit untuk Nestlé, Golden Agri-Resources (GAR) menjadi salah satu pemasok pertama yang berpartisipasi dalam kajian yang dilakukan selama setahun (April 2017-May 2018). Penelitian dilakukan pada sebuah kilang minyak kelapa sawit GAR. Selain itu, empat pabrik yang memasok minyak sawit mentah ke kilang tersebut juga dikunjungi oleh tim, yang mana salah satu kilang memiliki kebun sendiri.

Banyak masalah ketenagakerjaan ditemukan di tiap tingkatan dan berbagai skala situs rantai pasokan kelapa sawit yang dipelajari oleh tim.

Di perusahaan kilang yang diteliti, berlakunya upah minimum bukan berarti menjamin terpenuhinya upah yang layak untuk hidup. Sementara pekerja permanen mendapat kesan paksaan untuk bergabung dengan serikat pekerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Masalah lainnya adalah jam kerja staf keamanan melebihi batas hukum.

Sementara itu di tingkat pabrik yang diteliti, ada kurangnya sistem kesehatan dan keselamatan kerja, pekerja tidak memiliki salinan kontrak mereka, perempuan dan anggota masyarakat lokal merasa didiskriminasi dalam hal akses ke pekerjaan, kerja lembur melebihi batas hukum, dan lembur tidak tertuliskan di dalam kontrak formal.

Di tingkat perkebunan, masalah seperti yang telah disebutkan di atas juga ditemukan. Selain itu, anak-anak berumur 14 sampai 17 tahun ditemukan membantu keluarga mereka dan ditoleransi oleh manajemen. Pekerja lepas juga tidak memiliki kontrak. Di lokasi pengumpulan, jam kerja yang berlebihan dan pelanggaran upah minimum terjadi.

Penelitian juga menemukan banyak masalah ketenagakerjaan di perkebunan petani kelapa sawit sebagai tatanan terendah dari rantai pasokan. Perkebunan petani kelapa sawit berada jauh dari jangkauan kebijakan berkelanjutan perusahaan besar karena adanya sistem perantara yang berlapis.

Source: Danish Institute for Human Rights dan The Forest Trust

 

“Ketika ada broker di rantai pasokan, kecenderungan permasalahan ketanagakerjaan akan lebih besar.” Janhavi Naidu,  ‘Respect’ Programme Manager The Forest Trust TFT.

 

"Ketika ada broker di rantai pasokan, kecenderungan pelanggaran hak-hak buruh lebih tinggi," kata Janhavi. "Contohnya adalah masalah pekerja anak, masalah kesehatan dan keselamatan kerja untuk penyemprot pupuk, penggunaan berlebihan pekerja musiman (pekerja harian lepas) tanpa kontrak untuk pekerjaan permanen, upah rendah atau lembur berlebihan untuk mencapai target yang lazim di sebagian besar perkebunan kelapa sawit di seluruh Indonesia dan dapat memiliki pendorong yang berbeda mulai dari kesadaran yang buruk, kebijakan perusahaan yang lemah hingga faktor-faktor lain seperti sistem target yang rumit dan upah per satuan pada perkebunan kelapa sawit Indonesia. "

Setelah dipublikasikannya kajian ini, Nestlé dan GAR masing-masing mengeluarkan rencana aksi mengenai hak-hak ketenagakerjaan untuk menindaklanjuti hasil laporan. Upaya mendampingi pemasok untuk memenuhi hak-hak pekerja terus dilakukan melalui uji kepatuhan, pembangunan kapasitas, pelatihan, dan dialog multi-stakeholder melibatkan serikat pekerja dan pemerintah.

“Tahun 2019, GAR lebih banyak menyasar isu ketenagakerjaan, khususnya hak pekerja.” ucap Tim Supply Chain Sinar Mas Agro Resources Technology (SMART), salah asatu anak perusahaan GAR. “Kondisi kerja di perkebunan kelapa sawit menghadapi sejumlah tantangan seperti  implementasi standar ketenagakerjaan yang masih membutuhkan berbagai perbaikan dan peningkatan.” tambah Tim Supply Chain SMART.

“Kajian ini juga menekankan bahwa permasalahan ketenagakerjaan di rantai pasokan kelapa sawit tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak.” Janhavi Naidu, ‘Respect’ Programme Manager The Forest Trust TFT.

 

Pendekatan multi-stakeholder dibutuhkan

“Kajian ini juga menekankan bahwa permasalahan ketenagakerjaan di rantai pasokan kelapa sawit tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pendekatan multi-stakeholder dibutuhkan.” Janhavi menjelaskan.

Laporan tersebut juga menjadi rekomendasi kepada pemangku kepentingan lainnya, seperti perusahaan pembeli minyak kelapa sawit lainnya, pemerintah Indonesia, lembaga sertifikasi keberlanjutan tingkat nasional dan internasional seperti ISPO dan RSPO, dan investor.

Janhavi dari The Earthworm Foundation mengajurkan asesmen dampak HAM bagi perusahaan lain.

“Melakukan asesmen dampak HAM akan bermanfaat untuk memahami ketenagakerjaan di industri kelapa sawit secara lebih luas dibandingkan lingkup uji kepatuhan pemasok.” ucap Janhavi.

 


Catatan: Kisah ini menceritakan pengalaman dan pendapat dari berbagai sudut pandang tentang situasi tertentu, dan dirancang untuk berbagi pelajaran tentang beberapa masalah yang terlibat. Ini tidak dimaksudkan untuk menjadi studi kasus yang komprehensif dan juga tidak mengklaim untuk memberikan laporan definitif dari kasus tertentu atau perspektif tentang kasus tersebut.

 

 

Mengenalkan Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial pada Kegiatan Pelatihan dan Pemagangan Kerja

Rajawali Foundation bekerja sama dengan SINERGI, salah satu proyek USAID, untuk mengadakan pelatihan dan pemagangan kerja inklusif untuk kaum muda kurang mampu dan rentan termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.

 

Kaum Muda dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang memberikan testimoni kepada peserta workshop untuk tidak mengangap sebelah mata kemampuan mereka dalam bekerja dan bekarya. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

 

Isu kesertaraan gender dan inklusi sosial (Gender Equality and Social Inclusion/ GESI) belum banyak diintegrasikan dan diimplementasikan pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja. Umumnya, kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja tidak secara khusus membahas isu GESI namun lebih banyak membahas tentang kesiapan dan peraturan kerja. Akibatnya, perempuan dan penyandang disabilitas sering kali dianggap sebelah mata dalam urusan pekerjaan bahkan sering mendapat perlakukan yang tidak adil dan tidak menyenangkan. Banyak hak mereka yang tidak dipenuhi dan disetarakan.

Rajawali Foundation melalui SINERGI sebagai salah satu proyek USAID yang fokus pada isu ketenagakerjaan inklusif untuk kaum muda kurang mampu dan rentan termasuk perempuan dan penyandang disabilitas merasa isu GESI sangat penting dikenalkan pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja. Sebagai langkah awal mengenalkan isu GESI , SINERGI menyelenggarakan kegiatan workshop Penerapan Metode dan Teknik Fasilitasi Pelatihan dan Pemagangan Kerja Berperspektif Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial  (GESI) pada tahun 2018 di Semarang.

Isu GESI pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja juga perlu terintegrasi pada kurikulum dan modul pelatihan. Begitu juga untuk fasilitator atau pengajarnya harus ada keterwakilan perempuan dan laki - laki.

 

“membongkar mental block sangat penting bagi penyandang disabilitas dan non difabel agar bisa menjalin kesetaraan.”

 

Pada ranah isu inklusi sosial, peserta workshop mendapatkan pemahaman tentang Membongkar Mental Block Kaum Muda Difabel dan Memahami Karakteristik Psiko-Sosial dan Kultur Peserta Pelatihan Kaum Muda Difabel. Peserta workshop juga berkesempatan mendengarkan testimoni dari delapan kaum muda penyandang disabilitas dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang.

Dalam testimoni tersebut, dijelaskan bahwa membongkar mental block sangat penting bagi penyandang disabilitas dan non difabel agar bisa menjalin kesetaraan. Para penyandang disabilitas mengajak peserta workshop untuk belajar memahi psiko-sosial difabel. Mereka bisa berdaya dan bekarya jika diberi kesempatan dan bukan anggapan remeh sebelah mata.

 

“Mereka bisa berdaya dan bekarya jika diberi kesempatan dan bukan anggapan remeh sebelah mata.”

 

Peserta workshop berdiskusi untuk pratik penyusunan rencana aksi dan penerapan metode dan teknik fasilitasi pelatihan kerja yang berperspektif GESI. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

 

Selain mendapatkan pemahaman tentang isu GESI melalui paparan materi dan diskusi panel, peserta workshop juga diajak untuk melakukan pratik penyusunan dan presentasi rencana aksi dan penerapan metode dan teknik fasilitasi pelatihan kerja yang berperspektif  GESI  serta praktik micro teaching pendekatan dan teknik pendampingan kaum muda difabel yang difasilitasi oleh tim dari Kerjabilitas.

Dari pelaksanaan workshop ini diharapkan para peserta yang terdiri dari anggota Kelompok Aksi (POKSI) dari proyek SINERGI, trainer Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), koordinator konsorsia 3P (Perusahaan – Pemerintah – Pemuda), serta pengusaha mitra pemagangan kerja konsorsia 3P dapat memahami isu GESI. Lebih lanjut, diharapkan juga dapat merancang rencana aksi metode dan teknik fasilitasi pelatihan dan pemagangan kerja yang berperspektif GESI untuk diterapkan paling tidak di lembaga/ instansi masing-masing.