Post Date: 21 Februari 2019

Limbah Tali Strapping untuk Pemberdayaan Ekonomi Wanita

PT Indah Kiat Perawang Mill, bagian dari Asia Pulp and Paper Group, mengadakan program bisnis pengolahan limbah tali strapping sebagai upaya pemberdayaan wanita. Kegiatan ini berhasil menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat yang memerlukan, terlebih bagi para wanita untuk memanfaatkan waktu luangnya. United Nation Development Program (UNDP) mengatakan bahwa kesempatan penciptaan lapangan kerja bagi yang memerlukan termasuk dalam konsep inklusi pasar yang terus dikembangkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan. Atas keberhasilan pengrajin tali strapping ini, PT Indah Kiat Perawang Mill mendapatkan apresiasi Indonesia Green Award pada tahun 2014. 

Tali strapping adalah tali plastik pengikat palet, dimana palet tersebut digunakan oleh PT Indah Kiat Perawang Mill untuk mengemas material hasil produksi seperti kertas dan pulp. Ide menggunakan tali strapping yang tidak dapat dipakai lagi oleh perusahaan untuk kerajinan anyaman dimulai oleh Muhammad Nur, seorang mantan karyawan PT Indah Kiat Perawang Mill. Ternyata hasil anyaman tersebut cukup bagus dan kuat. Bapak Nur kemudian mengajukan kepada perusahaan melalui tim program pengembangan masyarakat sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CD-CSR) untuk memanfaatkan tali strapping yang tidak terpakai.

 

 

Tali Strapping Memberdayakan Kaum Wanita

Kerajinan anyaman tali strapping ini semakin berkembang dari hanya usaha utama keluarga Pak Nur (setelah mengundurkan diri sebagai karyawan untuk fokus dalam mengembangkan usahanya) dan istrinya Bu Nurlis, menjadi salah satu sumber penghidupan beberapa keluarga di Desa Tualang. Para pengrajin ini membentuk kelompok yang dinamakan ‘Tunas Harapan’ dari jumlah awal kurang lebih 45 orang ibu rumah tangga yang berasal dari 4 RT, saat ini berkembang menjadi 95 anggota (L: 5, P:90). Selain kelompok Tunas harapan, PT Indah Kiat Perawang juga memberdayakan 1 kelompok lagi dengan anggota 30 orang di Desa Pinang Sebatang Kecamatan Tualang Kabupaten Siak.

 

Mayoritas anggota kelompok pengrajin adalah ibu rumah tangga. Hal ini berawal dari pemikiran dengan melihat kondisi para wanita di desanya yang kebanyakan terpaksa harus bekerja diluar rumah, yang salah satunya dengan menjadi pegawai kontrak/outsourcing di perusahaan swasta untuk membantu penghasilan suami, sementara tidak ada yang mengurus anak-anaknya di rumah. Beberapa kejadian menyebabkan anak-anak yang tidak mendapat perhatian orang tuanya ini mengalami kecelakaan misalnya tenggelam pada saat bermain di sungai.

Dengan program pemberdayaan wanita ini, PT Indah Kiat Perawang berharap para wanita tersebut selain bisa mempunyai pendapatan, mereka tetap bisa menjaga anak-anaknya dengan baik.

Semua kebutuhan material untuk membuat anyaman akan dikirimkan ke rumah mereka masing-masing, begitupun hasil anyamannya akan diambil oleh Pak Nurlis. Pak Nurlis mengantar material dan menjemput hasil anyaman itu hanya bermodalkan gerobak dan sepeda motornya.

Bu Nurlis tidak pernah melewatkan catatan untuk semua pengeluaran, pemasukan, barang masuk dan keluar dari hasil usaha ini. Para suami kelompok wanita pengrajin ini juga siap membantu setelah mereka pulang kerja.

PT Indah Kiat tidak hanya memberikan kesempatan untuk memanfaatkan tali strapping ini tapi juga memberikan pemahaman kepada anggota kelompok Tunas Harapan untuk saling membantu dalam keluarga. Setiap bulan, ratusan barang kerajinan terjual dan penjualannya pun semakin luas. Permintaan tidak hanya datang dari kota-kota di Provinsi Riau, tapi juga dari Sumatra Barat. Volume tali strapping yang digunakan juga meningkat. Hingga akhir 2018, setiap bulan secara total ada dua ton tali strapping yang digunakan sebagai bahan baku anyaman. Tali ini seluruhnya dibeli dari PT Indah Kiat Perawang Mill. Sinergi ini merupakan salah satu konsep pengembangan masyarakat yang dianut oleh PT Indah Kiat dengan menunjukkan adanya keterukuran antara meningkatnya bisnis perusahaan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai mitra yang tumbuh bersama.

Hasil penjualan tali strapping yang dibeli oleh kelompok pengrajin dikembalikan Indah Kiat Perawang ke Kelompok Perajin Tunas Harapan. Pengembalian ini dalam bentuk bantuan pembangunan fasilitas pendukung, di antaranya sumur bor, pompa dan kolam pencucian. Selain itu perusahaan juga membeli barang-barang kerajinan sebagai cindera mata dan memfasilitasi keikutsertaan pengrajin dalam berbagai pameran.

 

 

Manfaat dan Pembelajaran

Keberhasilan Kelompok Perajin Tunas Harapan dalam memperluas pasar di luar wilayahnya mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Usaha yang gigih, kerja keras, kebersamaan dan kesadaran untuk saling mendukung dalam keluarga menjadi poin keberhasilan individu dan kelompok.

Upah yang mereka terima rata-rata berkisar Rp 800.000 hingga Rp 1.500.000 bahkan bisa lebih jika pesanan banyak, terutama saat bulan-bulan perayaan. Nilai ini merupakan tambahan penghasilan (sekitar 40% dari upah minimum daerah Perawang) yang sangat bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

“Saya mendapatkan penghasilan antara Rp 900.000 – Rp 1.200.000, namun saya lebih suka mengumpulkannya dulu dan baru mengambilnya dalam beberapa bulan atau pada saat ada kebutuhan. Uang itu saya kumpulkan untuk kemudian saya belikan perhiasan atau kebutuhan sekolah anak,” kata Dahlia, 36 tahun, salah satu pengrajin anyaman tali strapping.

Nurlis, istri Pak Nur, bendahara Kelompok Tunas Harapan mengatakan bahwa,  “Ibu-Ibu anggota kelompok lebih suka mengumpulkan hasil perolehan pendapatan mereka. Jika sudah terkumpul banyak mereka baru akan mengambilnya untuk berbagai keperluan. Ke depan kami ingin membentuk koperasi bersama yang bisa membantu  untuk memenuhi kebutuhan anggota Kelompok.”

Share this post