Post Date: 21 Februari 2019

Membuka Pasar Ekspor dengan Peduli Hak-Hak Petani Pemasok

Perusahaan makanan PT Kampung Kearifan Indonesia (JAVARA) sukses di pasar ekspor melalui kepedulian terhadap hak-hak dan kesejahteraan petani pemasok.

 

“JAVARA bertujan untuk memberdayakan petani sebagai mitra dan pemasok.” – Tantrie Soetjipto, Marketing Director JAVARA

 

Terinspirasi oleh kekayaan ragam hayati pangan Indonesia, tradisi budaya kuliner dan kearifan lokal nusantara, Javara didirikan oelh Helianti Hilman pada tahun 2008 untuk membawa produk pangan artisan terbaik dari berbagai pelosok Indonesia ke panggung dunia. Dengan mengkombinasikan pemanfaatan bahan-bahan lokal terbaik, resep-resep kuno, metode tradisional dengan pendekatan pengolahan secara modern, kami menghadirkan produk terbaik yang otentik, unik dan sekaligus mengikuti trend pangan global dan persyaratan keamanan pangan dunia.

Mengusung sistem perdagangan yang transparan dan saling menguntungkan, dan berdasarkan prinsip-prinsip bermoral. Produk-produk JAVARA bersifat artisanal, organik, alami dan memiliki keunikan baik secara jenis, kualitas maupun asal-usul. Bermitra dengan sekitar 52,000 petani,  perimba dan nelayan dari Aceh hingga Papua. Javara saat ini telah mengeluarkan produk lebih dari 900 produk,  dimana  lebih 300 produk organik  telah bersertifikasi international sesuai dengan standar Uni Eropa, Amerika Serikat (US NOP) dan Jepang (JAS). Selain pemasaran dalam negeri, Javara juga telah melakukan ekspor ke 23 negara di 5 benua.

 

Sumber: www.javara.co.id

Berawal dari hanya 10 petani dan 8 produk, kini JAVARA telah bekerja sama dengan 50,000 petani di seluruh Indonesia dan menjual 600 produk pengrajin. enis produk dari beras, kopi, madu, aneka rempah, kokoa, kacang mete, gula aren, minyak kelapa, selai, pisang, bumbu, rumput laut dan berbagai jenis produk lainnya berhasil mendapatkan apresiasi dari sejumlah negara lain. 85% dari penjualan JAVARA berasal dari pasar ekspor, dengan Eropa dan Amerika Utara sebagai tujuan utama pemasaran. Perusahaan tersebut juga telah memasok ke lebih dari 300 perusahaan retailer, hotel, dan kuliner di Indonesia[1].

 


[1] http://www.britcham.or.id/assets/files/Bio%20-%20Helianti%20Hilman.pdf


 

Sumber: www.javara.co.id

 

Logo siluet petani JAVARA menunjukan komitmen JAVARA untuk memberdayakan petani lokal sebagai jati diri perusahaan. “JAVARA bertujan untuk memberdayakan petani sebagai mitra dan pemasok. Contohnya, JAVARA membayar langung petani pemasok dimuka setelah melakukan pemesan pembelian. Sistem ini mempermudah petani untuk modal menjalankan usahanya.” Tantrie Soetjipto, Marketing Director, menjelaskan di acara dialog multi-stakeholder yang bertemakan ‘Memahami Hak-Hak Perempuan di Tempat Kerja’ yang diselenggarakan oleh Indonesia Global Compact Network pada tanggal 19 Oktober 2018.

“Melalui program Sekolah Seniman Pangan, JAVARA juga melakukan pelatihan bagi petani untuk menaikan nilai tambah produk mereka.” Tantrie menjelaskan. “Contohnya, bagaimana membuat branding keripik dari buah-buahan segar. Sehingga petani pun menikmati nilai jual yang lebih besar.”

 

“Program Sekolah Seniman Pangan memberikan wawasan bagi petani mulai dari perkebunan hingga pemasaran ke pasar.” Nando, alumni Sekolah Seniman Pangan JAVARA.

 

Salah satu petani lulusan Sekolah Seniman Pangan adalah Nando, aktivis petani sorgum yang berasal dari NTT. Pada tahun 2016 setelah menyelesaikan beasiswa di Amerika Serikat, Nando menjadi petani mitra JAVARA.

“Program Sekolah Seniman Pangan memberikan wawasan bagi petani mulai dari perkebunan hingga pemasaran ke pasar.” ucap Nando. “Program ini juga menyemangati pemuda untuk kembali melestarikan budaya pertanian leluhur dan menjaga hak-hak tanah adat.” tambah Nando.

JAVARA juga memastikan sumber produknya dapat dilacak (traceable) langsung ke petani. Kemitraan yang sangat dekat dengan petani memastikan produk dibuat dengan cara-cara yang dapat diteliti kualitasnya.

 

Sumber: www.javara.co.id

 

Untuk menembus pasar ekspor, JAVARA mengikuti standar sertifikasi luar negeri yang diterapkan di Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. “Setiap 2 tahun JAVARA akan diaudit oleh badan sertifikasi  international mengenai kualifikasi hak asasi manusia( tidak memperkerjaan anak2, kerja paksa, lingkup kerja yang aman) dan   standar-standar ethical  trade.” ucap Tantrie Soetjipto-Director.

 

“Itu adalah sebuah keputusan bisnis untuk menentukan bisnis apa yang ingin perusahaan jalankan. JAVARA sudah berkomitmen sejak awal untuk menjadi sebuah bisnis sosial.” – Tantrie Soetjipto, Marketing Director JAVARA

 

Ketika ditanya oleh salah satu peserta dialog mengenai keuntungan perusahaan menghormati HAM, Tantrie pun menjawab, “Itu adalah sebuah keputusan bisnis untuk menentukan bisnis apa yang ingin perusahaan jalankan. JAVARA sudah berkomitmen sejak awal untuk menjadi sebuah bisnis sosial.”

 

Share this post