Post Date: 21 Februari 2019

Menyebarluaskan perlindungan hak-hak anak melalui pendidikan inovatif

PT Trans Javagas Pipeline melalui Yayasan Hati Suci berdedikasi untuk mengembangkan sistem pendidikan dan panti asuhan percontohan di Indonesia. 

PT Trans Javagas Pipeline berupaya untuk menyebarluaskan perlindungan hak-hak anak melalui pendidikan inovatif. Yayasan Hati Suci berdedikasi untuk mengembangkan sistem pendidikan dan panti asuhan percontohan di Indonesia.

 

 

“Trans Java Gas Pipeline berkomitmen untuk menghormati 10 prinsip hak anak di Indonesia melalui pembinaan Yayasan Hati Suci.” ucap Joseph Dharmabrata Direktur PT Trans Java Gas Pipeline.

 

“Trans Java Gas Pipeline berkomitmen untuk menghormati 10 prinsip hak anak di Indonesia melalui pembinaan Yayasan Hati Suci.”
Joseph Dharmabrata, Direktur PT Trans Java Gas Pipeline.

 

Yayasan yang telah berdiri lebih dari 100 tahun dengan visi “kasih, harapan, dan masa depan” ini memiliki andil besar dalam mempromosikan hak-hak anak di Indonesia dan di Dunia.

“Saya rasa yayasan ini memiliki visi sederhana yang tidak lekang oleh waktu. Yayasan Hati Suci sudah jadi delegasi Hindia Belanda ke Liga Bangsa-Bangsa untuk mengadvokasi hak anak dan melahirkan perjanjian mengenai 10 prinsip hak anak.”  Joseph menjelaskan kekayaan sejarah Yayasan Hati Suci.

Awalnya yayasan fokus memberdayakan anak-anak perempuan yang terlantar dan korban pemaksaan prostitusi. Permasalahan anak terlantar kini terus berubah seiring waktu seperti adanya anak terlantar karena ditinggal ibunya sebagai TKW, perceraian karena menikah muda, bahkan ada anak yang berhenti sekolah karena dipekerjakan oleh ibunya.

“Ada anak-anak yang diterlantarkan di sini dari umur 4 tahun, kini sudah lulus dari UI dan bekerja di tempat-tempat yang bagus.” Joseph menjelaskan.

Pengalaman selama lebih dari seratus tahun dalam memberdayakan anak-anak akan dijadikan materi pembangunan kapasitas sekolah dan panti asuhan lain di seluruh pelosok Indonesia.

“Kami akan membangun sebuah platform digital dengan organisasi-organisasi lain untuk menyebarkan cara pendidikan inovatif dan kreatif untuk pekerja sosial panti asuhan dan guru-guru di sekolah. Sehingga, anak-anak akan siap menghadapi industri 4.0.” Joseph menjelaskan.

“Banyak sekali workshop sudah diberikan. Tetapi ketika guru mengajar di kelas, kembali business as usual. Ilmu pengetahuan tidak cukup, pembangunan kapasitas juga diperlukan.” Joseph menekankan.

 

“Banyak sekali workshop sudah diberikan. Tetapi ketika guru mengajar di kelas, kembali business as usual. Ilmu pengetahuan tidak cukup, pembangunan kapasitas juga diperlukan.”  – Joseph Dharmabrata, Direktur PT Trans Java Gas Pipeline.

 

Pembangunan kapasitas termasuk cara konkret mendidik yang tidak membosankan dan kreatif. Contohnya, format kelas yang mengedepankan kerja kelompok atau corner bermain, belajar, menggambar, dan kegiatan lain yang menarik. Penggunaan komputer dan gadget yang edukatif juga dilaksanakan.

Share this post