Post Date: 21 Februari 2019

Mengenalkan Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial pada Kegiatan Pelatihan dan Pemagangan Kerja

Rajawali Foundation bekerja sama dengan SINERGI, salah satu proyek USAID, untuk mengadakan pelatihan dan pemagangan kerja inklusif untuk kaum muda kurang mampu dan rentan termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.

 

Kaum Muda dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang memberikan testimoni kepada peserta workshop untuk tidak mengangap sebelah mata kemampuan mereka dalam bekerja dan bekarya. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

 

Isu kesertaraan gender dan inklusi sosial (Gender Equality and Social Inclusion/ GESI) belum banyak diintegrasikan dan diimplementasikan pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja. Umumnya, kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja tidak secara khusus membahas isu GESI namun lebih banyak membahas tentang kesiapan dan peraturan kerja. Akibatnya, perempuan dan penyandang disabilitas sering kali dianggap sebelah mata dalam urusan pekerjaan bahkan sering mendapat perlakukan yang tidak adil dan tidak menyenangkan. Banyak hak mereka yang tidak dipenuhi dan disetarakan.

Rajawali Foundation melalui SINERGI sebagai salah satu proyek USAID yang fokus pada isu ketenagakerjaan inklusif untuk kaum muda kurang mampu dan rentan termasuk perempuan dan penyandang disabilitas merasa isu GESI sangat penting dikenalkan pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja. Sebagai langkah awal mengenalkan isu GESI , SINERGI menyelenggarakan kegiatan workshop Penerapan Metode dan Teknik Fasilitasi Pelatihan dan Pemagangan Kerja Berperspektif Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial  (GESI) pada tahun 2018 di Semarang.

Isu GESI pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja juga perlu terintegrasi pada kurikulum dan modul pelatihan. Begitu juga untuk fasilitator atau pengajarnya harus ada keterwakilan perempuan dan laki – laki.

 

“membongkar mental block sangat penting bagi penyandang disabilitas dan non difabel agar bisa menjalin kesetaraan.”

 

Pada ranah isu inklusi sosial, peserta workshop mendapatkan pemahaman tentang Membongkar Mental Block Kaum Muda Difabel dan Memahami Karakteristik Psiko-Sosial dan Kultur Peserta Pelatihan Kaum Muda Difabel. Peserta workshop juga berkesempatan mendengarkan testimoni dari delapan kaum muda penyandang disabilitas dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang.

Dalam testimoni tersebut, dijelaskan bahwa membongkar mental block sangat penting bagi penyandang disabilitas dan non difabel agar bisa menjalin kesetaraan. Para penyandang disabilitas mengajak peserta workshop untuk belajar memahi psiko-sosial difabel. Mereka bisa berdaya dan bekarya jika diberi kesempatan dan bukan anggapan remeh sebelah mata.

 

“Mereka bisa berdaya dan bekarya jika diberi kesempatan dan bukan anggapan remeh sebelah mata.”

 

Peserta workshop berdiskusi untuk pratik penyusunan rencana aksi dan penerapan metode dan teknik fasilitasi pelatihan kerja yang berperspektif GESI. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

 

Selain mendapatkan pemahaman tentang isu GESI melalui paparan materi dan diskusi panel, peserta workshop juga diajak untuk melakukan pratik penyusunan dan presentasi rencana aksi dan penerapan metode dan teknik fasilitasi pelatihan kerja yang berperspektif  GESI  serta praktik micro teaching pendekatan dan teknik pendampingan kaum muda difabel yang difasilitasi oleh tim dari Kerjabilitas.

Dari pelaksanaan workshop ini diharapkan para peserta yang terdiri dari anggota Kelompok Aksi (POKSI) dari proyek SINERGI, trainer Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), koordinator konsorsia 3P (Perusahaan – Pemerintah – Pemuda), serta pengusaha mitra pemagangan kerja konsorsia 3P dapat memahami isu GESI. Lebih lanjut, diharapkan juga dapat merancang rencana aksi metode dan teknik fasilitasi pelatihan dan pemagangan kerja yang berperspektif GESI untuk diterapkan paling tidak di lembaga/ instansi masing-masing.

Share this post